Makalah Kode Etik Guru

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sekarang ini profesi guru diperhatikan sekali oleh pemerintah karena kita sadar kalau profesi gurulah yang dapat menentukan masa depan bangsa ini. Guru yang baik dan berkualitas akan menghasilkan bangsa yang berkualitas juga begitu pun sebaliknya jika gurunya tidak berkualitas maka bangsa ini akan semakin tertinggal oleh bangsa lain, ini dikarenakan guru adalah pendidik untuk generasi muda kita yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ini di masa depan.
 Sampai sekarang ini peran guru dalam pengajaran tidak bisa digantikan oleh apapun termasuk mesin pengajaran seperti tape recorder, komputer dan berbagai alat pengajaran yang diciptakan manusia. Karena alat tersebut tidak dapat menggantikan peranan guru yang berhubungan dengan unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, kebiasaan dan unsur-unsur lain yang ingin dicapai. Oleh karena itu sampai hari ini lembaga-lembaga pendidikan guru masih terus menerima mahasiswa calon guru untuk di didik menjadi guru yang betul-betul menyadari akan tugasnya sebagai seorang guru. Dalam hal gaji dan tunjangan guru sekarang ini sudah lebih diperhatikan oleh pemerintah daripada pada zaman orde baru dulu. Sehingga sekarang orang berlomba-lomba untuk menjadi guru.

Namun sekarang banyak oknum guru yang masih belum sadar akan tugas dan tanggung jawabnya yang tentu saja membuat citra guru semakin rusak. Masih banyak kasus guru dalam mengajar di kelas masih menggunakan kekerasan dalam mengajar, masih banyak guru yang mengharuskan untuk membeli buku-buku pelajaran tertentu untuk dijadikan bahan acuan, masih banyak guru dalam masuk kelas sering terlambat sehingga jam belajar siswa menjadi berkurang dan masih banyak lagi kasus-kasus lain yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Guru yang seharusnya dituntut selalu berbuat baik di mata siswa malah banyak melakukan pelanggaran, tentu saja ini akan menjadi contoh yang kurang baik bagi anak didiknya.
Sebenarnya pada tahun 1973 tepatnya tanggal 21 s/d 25 November kongres XIII PGRI telah membuat kesepakatan tentang kode etik guru. Dalam isi kode etik tersebut memuat dua unsur pokok yaitu sebagai landasan moral dan sebagai pedoman tingkah laku. Kode etik ini dibuat  karena pekerjaan guru juga termasuk profesi seperti pekerjaan lainnya seperti profesi dokter, jurnalis, dan lain-lain. Dalam UU Guru dan Dosen yakni UU RI No 14 Tahun 2005 dimasukkan juga sebuah dictum yang penting sebagai salah satu persyaratan sebuah profesi, yaitu kode etik yang akan menjadi kerangka acuan etika dan moral dalam menjalankan profesinya. Profesi sendiri berarti pekerjaan yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk pekerjaan tersebut. Sehingga diharapkan dengan adanya kode etik guru bisa membuat guru-guru sadar akan tugas dan tanggung jawabnya dalam mencerdaskan anak bangsa.
Tapi dalam pelaksanaannya ternyata masih banyak oknum guru yang melanggar isi kode etik tersebut. Padahal pemerintah juga telah membuat pasal-pasal yang mengatur tentang sanksi apabila melanggar kode etik guru tapi tetap saja tidak bisa membuat oknum guru tersebut jera dalam melakukan pelanggaran. Maka lembaga-lembaga pendidikan  penghasil calon guru harus mengajarkan kode etik guru dalam salah satu mata kuliahnya. Agar nantinya kode etik guru tersebut dapat diketahui sedini mungkin.
Sehingga dalam makalah ini kami akan menjelaskan tentang “Kode Etik Guru” lebih secara mendetail agar nantinya kita bisa lebih mengenal apa itu kode etik guru.


1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kode etik guru ?
2. Apa isi dari kode etik guru ?
3. Bagaimana menerapkan kode etik guru ?
4. Apakah hakikat kode etik guru bagi guru?
5. Apa kendala-kendala pelaksanaan kode etik guru dan bagaimana solusinya ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kode etik guru
2. Untuk mengetahui isi dari kode etik guru
3. Untuk mengetahui cara menerapkan kode etik guru
4. Untuk mengetahui kode etik guru bagi guru di Indonesia
5. Untuk mengetahui kendala-kendala pelaksanaan kode etik guru dan solusinya


1.4 Manfaat
Manfaat bagi penulis yaitu sebagai pembelajaran dalam membuat sebuah makalah kode etik guru. Dan manfaat bagi pembaca bisa lebih memahami tentang kode etik guru tersebut.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kode Etik Guru
Seperti yang kita sudah ketahui sebelumnya jika pekerjaan guru telah menjadi sebuah profesi seperti profesi-profesi lainnya. Sehingga profesi guru haruslah memiliki kode etik tersendiri. Menurut kongres PGRI ke XIII, ketua umum PGRI menyatakan bahwa kode etik guru Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku guru dalam melaksanakan panggilan pengabdian bekerja sebagai guru (PGRI, 1973). Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kode etik guru Indonesia terdapat dua unsur pokok yakni sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku.
Sedangkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) pasal 43 dikemukakan sebagai berikut : 
a) Untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru membentuk kode etik
b) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi norma dan etika yang mengikat perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan.
Secara harfiah, “kode etik” berarti sumber etik. Etik berasal dari perkataan ethos, yang berarti watak.Istilah etik (ethica) mengandung makna nilai-nilai yang mendasari perilaku manusia. Term etik berasal dari bahasa filsafat, bahkan menjadi salah satu cabangnya. Etik juga disepadankan dengan istilah adab, moral, atau pun akhlaq. Etik juga  artinya tata susila (etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. 
Jadi “kode etik guru” diartikan sebagai aturan tata-susila keguruan. Juga berarti aturan-aturan tentang keguruan (yang menyangkut pekerjaan-pekerjaan guru) melibatkan dari segi usaha. Maksud dari kode etik guru di sini adalah norma-norma yang mengatur hubungan kemanusiaan (relationship) antar guru dengan lembaga pendidikan (sekolah); guru dengan sesama guru; guru dengan peserta didik; dan guru dengan lingkungannya. Sebagai sebuah jabatan pekerjaan, profesi guru memerlukan kode etik khusus untuk mengatur hubungan-hubungan tersebut.
Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan pengembangan bagi profesi. Fungsi seperti itu sama seperti apa yang dikemukakan Gibson dan Michel (1945 : 449) yang lebih mementingkan pada kode etik sebagai pedoman pelaksanaan tugas prosefional dan pedoman bagi masyarakat sebagai seorang professional. Sutan Zahri dan Syahmiar Syahrun (1992) mengemukakan empat fungsi kode etik guru bagi guru itu sendiri, antara lain :
1. Agar guru terhindar dari penyimpangan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Untuk mengatur hubungan guru dengan murid, teman sekerja, masyarakat dan pemerintah.
3. Sebagai pegangan dan pedoman tingkah laku guru agar lebih bertanggung jawab pada profesinya.
4. Penberi arah dan petunjuk yang benar kepada mereka yang menggunakan profesinya dalam melaksanakan tugas.

2.2 Isi dari Kode Etik Guru
Adapun rumusan kode etik guru yang merupakan kerangka pedoman guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya itu sesuai dengan hasil kongres PGRI XIII, yang terdiri dari Sembilan item berikut:
a) Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
Maksud dari rumusan tersebut yaitu guru harus mengabdikan dirinya secara ikhlas untuk menuntun dan mengantarkan anak didiknya seutuhnya, baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun mental, agar nantinya bisa menjadi generasi pembangunan yang menghayati dan mengamalkan serta melaksanakan segala perbuatannya berlandaskan pada sila-sila Pancasila.

b) Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
Maksudnya dari rumusan ini yaitu guru harus mendesain program pengajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setiap anak didik. Dan juga guru harus mampu menerapkan kurikulum secara benar, sesuai dengan apa yang dibutuhkan anak didiknya. Apabila guru melakukan pengajaran di SD maka kurikulum yang digunakan juga kurikulum untuk SD begitupun untuk tingkat-tingkat selanjutnya. Apabila ini dilanggar ini berarti guru sudah melanggar kejujuran profesional.

c) Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
Maksudnya yaitu guru perlu mengadakan komunikasi dan hubungan baik dengan anak didiknya. Hal ini penting agar guru mendapatkan informasi secara lengkap mengenai karakteristik setiap anak didiknya. Dengan mengetahui keadaan dan karakteristik anak didik ini maka akan sangat membantu bagi guru dan siswa dalam upaya menciptakan proses pembelajaran yang optimal. Untuk ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yakni :
Segala bentuk kekakuan dan ketakutan harus dihilangkan dari perasaan anak didik, tetapi sebaliknya harus dirangsang sedemikian rupa sehingga menjadi sifat terbuka, agar anak didiknya berani mengemukakan pendapat dan segala masalah yang dihadapinya.
Semua tindakan guru terhadap anak didiknya harus selalu mengandung unsur kasih sayang, ibarat orang tua dengan anaknya maka dari itu guru harus bersikap sabar, ramah, dan terbuka.
Diusahakan guru dan anak didik dalam satu kebersamaan orientasi agar tidak menimbulkan suasana konflik. Sebab harus dimaklumi bahwa sekolah atau kelas merupakan kumpulan subjek yang heterogen sehingga keadaannya cukup kompleks.
Kemudian yang harus diingat oleh guru adalah dalam mengadakan komunikasi. Hubungan yang harmonis dengan anak didik itu tidak boleh disalahgunakan. Dengan sifat ramah, kasih sayang dan saling terbuka dapat diperoleh informasi mengenai diri anak didik secara lengkap. Ini semata-mata demi kepentingan belajar anak didik, tidak boleh untuk kepentingan guru, apalagi untuk maksud-maksud pribadi guru itu sendiri.

d) Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
Maksudnya yaitu guru mampu menciptakan suasana sekolah yang nyaman sehingga anak itu bisa belajar dengan optimal. Usaha menciptakan suasana kehidupan sekolah sebagaimana dimaksud diatas, akan menyangkut dua hal. Pertama yang berkaitan dengan proses belajar mengajar dikelas secara langsung. Untuk ini meliputi hal-hal berikut:
1.     Pengaturan tata-ruang kelas yang lebih kondusif untuk kepentingan pengajaran.
2.     Menciptakan iklim atau suasana belajar-mengajar yang lebih serasi. 
Kedua, menciptakan kehidupan sekolah dalam arti luas yakni meliputi sekolah secara keseluruhan. Dalam hubungan ini dituntut adanya hubungan baik dan interaksi antara guru dengan guru, guru dengan anak didik, guru dengan pegawai, pegawai deengan anak didik. Dengan demikian, memang dituntut adanya keterlibatan semua pihak di dalam lembaga kependidikan, sehingga dapat menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.

e) Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua siswa dan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
Maksudnya yaitu sesuai dengan Tri pusat pendidikan, masyarakat juga ikut bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan. Oleh karena itu, guru juga harus membina hubungan baik dengan masyarakat, agar dapat menjalankan tugasnya sebagai pelaksanaan proses pembelajaran. Dalam hal ini mengandung dua dimensi penglihatan, yakni masyarakat disekitar sekolah, bagi guru sangat penting untuk selalu memelihara hubungan baik, karena guru akan mendapatkan masukan pengalaman serta memahami berbagai kejadian atau perkembangan masyarakat itu. 
Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai usaha pengembangan sumber belajar yang lebih mengena demi kelancaran proses pembelajaran. Sebagai contoh guru yang sedang menerangkan sesuatu pelajaran, kemudian untuk memperjelas dapat diberikan ilustrasi dengan beberapa perkembanganyang terjadi di masyarakat sekitar.Di samping itu jika sekolah mengadakan berbagai kegiatan, sangat memerlukan kemudahan dari masyarakat sekitar. Selanjutnya jika dilihat dari masyarakat secara luas, hubungan baik guru dengan masyarakat luas itu akan mengembangkan pengetahuan guru tentang persepsi kemasyarakatan yang lebih luas. Misalnya tentang budaya masyarakat dan bagaimana masyarakat  sebagai pemakai lulusan.
Selanjutnya dalam mengusahakan keberhasilan proses pembelajaran itu, guru juga harus membina hubungan baik dengan orang tua murid. Melalui hal ini diharapkan dapat mengetahui keadaan anak didiknya dan bagaimana kegiatan belajarnya di rumah. Juga untuk mengetahui beberapa hal tentang anak didik melalui orang tuanya, sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk menentukan kegiatan belajar-mengajar yang lebih baik. Hubungan baik antara guru dengan orang tua murid merupakan faktor yang tidak dapat ditinggalkan, karena keberhasilan belajar anak didik tidak dapat dipisahkan dengan bagaimana keadaan dan usaha orang tua murid. Apalagi kalau ada kaitannya dengan tugas dan kewajiban guru sebagai pendidik, dalam upaya membina kepribadian anak didik, maka andil orang tua sangat menentukan.

f) Guru secara sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
Maksudnya yaitu dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, guru harus selalu meningkatkan mutu profesinya, baik dilaksanakan secara perseorangan ataupun secara bersama-sama. Hal ini sangat penting, karena baik buruknya layanan akan mempengaruhi citra guru ditengah-tengah masyarakat.
Adapun cara-cara meningkatkan mutu profesi guru dapat dilakukan sebagai berikut: 
Dengan menekuni dan mempelajari secara kontinue proses pembelajaran secara umum.
Mendalami spesialisasi bidang studi yang diajarkan.
Melakukan kegiatan-kegiatan mandiri yang relevan dengan tugas keprofesiannya.
Mengembangkan materi dan metodologi yang sesuai dengan kebutuhan pengajaran.
Melakukan supervisi dialog dan konsultasi dengan guru-guru yang lebih senior.
Mengikuti berbagai bentuk penataran dan lokakarya.
Mengikuti program pembinaan keprofesian secara khusus, misalnya program akta ataupun re-edukasi bagi yang merasa belum memenuhi kompetensinya.
Mengadakan kegiatan diskusi dan saling tukar pikiran dengan teman sejawat terutama yang berkaitan dengan peningkatan mutu profesi.

g) Guru menciptakan dan memelihara hubungan antarsesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
Maksudnya yaitu kerja sama dan pembinaan hubungan antar guru di lingkungan tempat kerja, merupakan usaha yang sangat penting. Sebab dengan pembinaan kerja sama antar guru di suatu lingkungan kerja akan dapat meningkatkan kelancaran mekanisme kerja, bahkan juga sebagai langkah-langkah peningkatan mutu profesi guru secara kelompok. Guru juga perlu membina hubungan dengan sesama guru secara keseluruhan, termasuk guru-guru di luar lingkungan tempat kerja. Hal ini dapat memberi masukan dan menambah pengalaman masing-masing guru, karena mungkin perkembangan di suatu daerah berbeda dengan perkembangan daerah lain.

h) Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
Maksudnya yaitu guru sebagai tenaga profesional kependidikan, juga memiliki organisasi profesional. Di Indonesia wadah atau organisasi profesional itu adalah PGRI, atau juga ISPI. Untuk meningkatkan pelayanan dan sarana pengabdiannya organisasi itu harus tetap dipelihara, dibina bahkan ditingkatkan mutu dan kekompakannya. Sebab dengan peningkatan mutu organisasi berarti akan mampu merencanakan dan melaksanakan program yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu organisasi PGRI dan ISPI harus lebih ditingkatkan dan perlu setiap kali mengadakan pertemuan antar para guru di berbagai program yang bermanfaat, terutama bagaimana upaya peningkatan mutu organisasi tersebut. Peningkatan mutu organisasi profesional itu, di samping untuk melindungi kepentingan anggota (para guru) juga sebagai wadah kegiatan pembinaan dan peningkatan mutu profesionalisme guru.

i) Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Maksudnya yaitu guru adalah bagian warga negara  dan warga masyarakat yang merupakan aparat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) atau aparat pemerintah di bidang pendidikan. Pemerintah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pengelola bidang pendidikan sudah pasti memiliki ketentuan-ketentuan yang merupakan policy (aturan), agar pelaksanaan dapat terarah.
            Guru sebagai aparat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan pelaksanaan langsung kurikulum dan proses pembelajaran, harus memahami dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh pemerintah mengenai bagaimana menangani persoalan-persoalan pendidikan. Dengan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan itu, diharapkan proses pendidikan berjalan lancar sehingga bisa menopang pelaksanaan pembangunan bangsa secara integral.
Tetapi harus diingat bahwa kebijaksanaan atau ketentuan-ketentuan pemerintah itu biasanya bersifat umum.Oleh karena itu guru sebagai pelaksana yang paling operasional harus memahami secara cermat dan kritis serta mengembangkannya secara rasional dan kreatif yang akhirnya dapat mendukung policy (aturan) pihak Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Untuk mengarahkan kepada maksud-maksud sebagaimana disebutkan diatas, maka perlu dilakukan hal-hal antara lain sebagai berikut:
1.  Guru harus memahami betul-betul maksud dan arah kebikjasanaan pendidikan nasional, agar dapat mengambil langkah-langkah secara tepat.
2.  Guru harus terus-menerus meningkatkan profesi dan kesadaran guru untuk memenuhi hakikat keprofesiannya.
3.  Dilakukan penilaian, pengawasan dan sanksi yang objektif dan rasional.
4.  Pemimpin lembaga-lembaga pendidikan harus bersifat terbuka, dalam upaya menerjemahkan setiap ketentuan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
5.  Guru yang semata-mata sebagai kiat dan pelaksana pemerintah di bidang kurikulum dan proses belajar-mengajar, perlu netral, tidak memihak pada golongan politik apa pun.
6.  Dalam melaksanakan kebijakan pemerintah (Departemen Pendidika dan Kebudayaan), yang berkenaan dengan pembaruan di bidang pendidikan, perlu diupayakan kerja sama antara pemrintah dan organisasi professional guru PGRI dan juga dengan ISPI.

Dengan memahami Sembilan butir kode etik guru seperti diuraikan di atas, diharapkan guru mampu berperan secara aktif dalam upaya memberikan motivasi kepada subjek belajar yang dihadapi oleh anak didik, berarti akan dapat dipecahkan atas bimbingan guru dan kemampuan serta kegairahan mereka sendiri. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar akan berjalan degan baik, sehingga hasilnya optimal.

2.3 Penerapan Kode Etik Guru

Kode etik dibuat untuk memotivasi setiap angotanya guna lebih meningkatkan diri, dan meningkatkan layanan profesionalnya demi kepentingan umum. Isi kode etik guru tersebut haruslah diterapkan dalam pelaksanaan kerjanya di lapangan. Berikut adalah contoh penerapan dari masing-masing bagian kode etik guru :
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
a) Guru menghormati hak individu, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari anak didiknya masing-masing.
b) Guru menghormati dan membimbing kepribadian anak didiknya.
c) Guru melatih anak didik memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasinya agar dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun.
d) Guru menyadari bahwa intelegensi, moral dan jasmani adalah tujuan utama pendidikan.
e) Guru membantu sekolah dalam usaha menanamkan pengetahuan, keterampilan kepada anak didik.

2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a) Guru memberikan pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum dan berlaku secara baik tanpa membedakan jenis, ekonomi, ras, suku, agama dan posisi sosial orang tua murid.
b) Guru harus memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masingsehingga guru hendaknya fleksibel di dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
a) Komunikasi guru dan peserta didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang. Artinya guru mampu berkomunikasi dengan peserta didik sesuai dengan bahasa peserta didik. 
b) Untuk berhasilnya pendidikan, guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya. Artinya guru dapat mengundang orang tua peserta didik ke sekolah atau guru mendatangi rumah peserta didik untuk mendapatkan informasi tentang peserta didik. 
c) Komunikasi hanya diadakan semata – mata untuk kepentingan pendidikan peserta didik, karena itu kita sebagai guru harus menghormati dan menjaga kerahasiaannya serta menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan. Artinya pencarian informasi itu semata – mata untuk menolong peserta didik itu sendiri, agar kita dapat memperlakukan mereka sesuai dengan kepentingannya.

4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
a) Guru wajib menciptakan iklim sekolah yang kondusif sehingga peserta didik tidak ada keinginan untuk pulang sebelum waktunya. Guru harus bersikap akrab dan hangat terhadap peserta didik. Pemberian penguatan kepada peserta didik perlu diperbanyak dan berusaha menghindari pemberian hukuman.

5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua siswa dan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
a) Untuk berhasilnya pendidikan, guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya. Artinya guru dapat mengundang orang tua peserta didik ke sekolah atau guru mendatangi rumah peserta didik untuk mendapatkan informasi tentang peserta didik. 
b) Guru senantiasa menerima kritik yang membangun dari orang tua / masyarakat dengan dada lapang. Sebagai guru selain terbuka menerima kritik dari orang lain, juga harus mau mengkritik diri sendiri, kekurangan – kekurangan apa saja yang ada dalam dirinya, kemudian berusaha mengatasi kekurangan – kekurangan tersebut
c) Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan.
d) Sekolah melibatkan masyarakat dalam merumuskan program – programnya, sebaliknya guru juga turut serta dalam kegiatan – kegiatan di masyarakat. Kerja sama itu bertujuan agar sekolah dapat berfungsi sebagai agen pembaharuan. Sekolah menjadi tempat pembinaan dan pengembangan budaya masyarakat.
6. Guru secara sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
Guru secara sendiri – sendiri mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalnya dengan cara :
a) Guru melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
b) Membaca buku – buku pendidikan atau keilmuan lainnya.
c) Mengikuti workshop / seminar, konperensi dan pertemuan – pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.
d) Mengikuti penataran.
Guru secara bersama – bersama mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalnya dengan cara :
a) Guru bersama anggota profesinya melapor ke supervisi klinis tentang masalah-masalah yang belum dikuasai. Mis : Pelaksanaan pembelajaran Cooperative Learning, tehnik penilaian, dll.
b) Guru bersama anggota profesinya memohon ke Diknas agar diadakan pelatihan -pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan – keterampilan guru. Misalnya dalam pembuatan media pembelajaran.

7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antarsesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
a) Guru tidak melakukan tindakan – tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya.
b) Guru saling bertukar informasi, pendapat, saling menasehati dan saling membantu satu sama lain baik dalam hubungan kepentingan pribadi maupun dalam hubungan tugas profesi. Misalnya : 
- Apabila ada rekan guru yang mendapat musibah maka harus saling membantu.
- Guru mengadakan rapat setiap minggu untuk menyelesaikan masalah – masalah yang ada di sekolah.

8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
a) Guru menjai anggota dan membantu organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
b) Guru sebagai anggota organisasi profesional, selayaknya berusaha menciptakan persatuan diantara sesama serta menghindarkan diri dari sikap-sikap, ucapan -ucapan dan tindakan- tindakan yang merugikan organisasi.

9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
a) Sebagai PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) guru adalah aparat pemerintah, karena itu sudah selayaknya melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan. Guru harus mematuhi Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman dalam melaksanakan tugasnya.

2.4 Hakikat Kode Etik Guru 
Pada dasarnya guru adalah tenaga profesional di bidang kependidikan yang memiliki tugas mengajar, mendidik, dan membimbing anak didik agar menjadi manusia yang berkepribadian pancasila. Dengan demikian, guru memiliki kedudukan yang sangat penting dan tanggung jawab yang sangat besar dalam menangani berhasil atau tidaknya program pendidikan. Kalau boleh dikatakan sedikit secara ideal, baik atau buruknya suatu bangsa di masa mendatang banyak terletak di tangan guru.
            Sehubungan dengan itu guru sebagai tenaga professional memerlukan pedoman atau kode etik guru agar terhidar dari segala bentuk penyimpangan. Kode etik menjadi pedoman baginya untuk tetap professional (sesuai dengan tuntutan dan persyaratan profesi). Setiap guru yang memegang keprofesionalannya sebagai pendidik akan selalu berpegang kepada kode etik guru. Sebab kode etik guru ini sebagai salah satu ciri yang harus ada pada profesi itu sendiri.
            Kode etik yang memedomani setiap tingkah laku guru senantiasa sangat diperlukan. Karena dengan itu penampilan guru akan terarah dengan baik, bahkan akan terus bertambah baik. Ia akan terus menerus memperhatikan dan mengembangkan profesi keguruannya. Kalau kode etik yang merupakan pedoman atau pegangan itu tidak dihiraukan berarti akan kehilangan pola umum sebagai guru. Jadi postur kepribadian guru akan dapat dilihat bagaimana pemanfaatan dan pelaksanaan dari kode etik yang sudah disepakati bersama tersebut. Dalam hubungan ini jabatan guru yang betuk-betuk professional selalu dituntut adanya kejujuran professional. Sebab kalau tidak ia akan kehilangan pamornya sebagai guru atau boleh dikatakan hidup diluar lingkup keguruan.

2.5 Kendala-Kendala Pelaksanaan Kode Etik Guru dan Solusinya
Sebagaimana dari pemaparan diatas, sebagian besar kode etik belumlah terlaksana. Secara umum Yang menjadi kendala dalam masalah ini bukanlah belum adanya kode etik guru, melainkan sudah sejauh mana guru-guru di negeri ini mempelajari, memahami, dan mengaplikasikan kode etik guru tersebut, baik dalam mendidik anak bangsa ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, guru betul-betul menjadi suri teladan bagi seluruh komponen bangsa di mana pun berada. 
Secara khusus kendala-kendala dalam pelaksanaan kode etik dijelaskan sebagai berikut:
a) Karena kurangnya kesadaran guru-guru kita akan Kedudukannya sebagai warga negara yang memiliki keteladanan disertai wawasan nusantara dan ketahanan nasional yang tangguh, jiwa patriotisme, kesetiakawanan sosial serta berdisiplin dan jujur.
b) Kurangnya kesadaran guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan sebagian guru memilih profesi sebagai seorang guru bukan karena panggilan jiwa dan hati nurani mereka sehingga dalam mengajar juga akan asal-asalan.
c) Kesadaran untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan mereka masih sangat kurang, adapun yang berniat untuk memperbaikinya biasanya tekendala lagi dengan masalah biaya, waktu dan tenaga.
d) Kurangnya perhatian khusus dari pemerintah maupun instansi terkait untuk menyediakan sarana prasarana bagi guru yang ingin mengembangkan wawasan dan pengetahuannya.
e) Kebanyakan guru kondisi ekonominya dibawah rata-rata sehingga harus mencari pekerjaan lain atau sampingan untuk memenuhi tuntutan ekonomi tersebut.
f) Biasanya guru hanya ikut seminar dan melanjutkan pendidikannya bukan lantaran ingin menambah wawasan dan pengetahuannya melainkan semata-mata karena tuntutan agar bisa lulus sertifikasi.
g) Kurangnya sosialisasi dan implementasi kode etik guru indonesia untuk seluruh guru, tenaga kependidikan, masyarakat terkait, pemerintah , dan lembaga/instansi terkait. Sehingga guru tidak memahami bagaimana cara mengaplikasikan kode etik tersebut dalam kehidupan –sehari-hari.
h) Tidak adanya sangsi yang tegas bagi guru yang melanggar kode etik.
i) Penjabaran kode etik belum terlalu jelas, baik bagi guru itu sendiri maupun bagi masyarakat sehingga guru maupun masyarakat tidak tahu kapan dan bagaimana ia melanggar kode etik yang telah ditetapkan.
Dengan adanya permasalahan mengenai pengembangan pengetahuan guru maka kesadaran tenaga kependidikan yang bersangkutan, pemerintah, masyarakat, dan instansi/lembaga terkaitlah yang dituntut untuk menyediakan semua yang dibutuhkan oleh guru untuk menunjang pengembangan pengetahuannya. Agar kode etik guru bisa berfungsi sebagaimana mestinya maka solusinya yaitu :
a) Guru yang melanggar Kode Etik Guru Indonesia dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
b) Guru dan organisasi guru berkewajiban mensosialisasikan Kode Etik Guru Indonesia kepada rekan sejawat Penyelenggara pendidikan, masyarakat dan pemerintah.
c) Pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap di setiap sekolah agar para guru bisa menerapkan kurikulum pendidikan dengan baik.
d) Pemerintah memfasilitasi guru yang ingin menambah wawasannya agar banyak guru-guru yang bisa mengajar materi pelajaran dengan baik.
e) Pemerintah harus lebih memperhatikan lagi gaji dan tunjangan para guru agar guru tidak lagi sibuk mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhannya.
f) Menambah kesadaran guru akan pentingnya tanggung jawabnya akan profesinya sehingga guru-guru tidak mengajar secara asal-asalan.





BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kode etik sangat penting artinya bagi sebuah profesi. Begitu juga dengan kode etik guru, dengan adanya kode etik guru. Maksud dari kode etik guru di sini adalah norma-norma yang mengatur hubungan kemanusiaan (relationship) antar guru dengan lembaga pendidikan (sekolah); guru dengan sesama guru; guru dengan peserta didik; dan guru dengan lingkungannya.
Adapun isi dari kode etik guru yaitu : Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila, Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing, Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik  tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan, Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik, Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua siswa dan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan, Guru secara sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya, Guru menciptakan dan memelihara hubungan antarsesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan, Guru secara bersama-sama memelihara membina dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya, Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Penerapan kode etik guru haruslah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan yang telah dirumuskan untuk meningkatkan mutu dari profesi guru itu sendiri. Dengan diterapkannya kode etik guru diharapkan guru mampu berperan secara aktif dalam upaya memberikan motivasi kepada subjek belajar yang dihadapi oleh anak didik, berarti akan dapat dipecahkan atas bimbingan guru dan kemampuan serta kegairahan mereka sendiri. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar akan berjalan degan baik, sehingga hasilnya optimal.
Kode etik yang memedomani setiap tingkah laku guru senantiasa sangat diperlukan. Karena dengan itu penampilan guru akan terarah dengan baik, bahkan akan terus bertambah baik. Ia akan terus menerus memperhatikan dan mengembangkan profesi keguruannya. Kalau kode etik yang merupakan pedoman atau pegangan itu tidak dihiraukan berarti akan kehilangan pola umum sebagai guru. Jadi postur kepribadian guru akan dapat dilihat bagaimana pemanfaatan dan pelaksanaan dari kode etik yang sudah disepakati bersama tersebut.
Masih banyak kendala-kendala dalam penerapan kode etik guru, secara umum yang menjadi kendala dalam masalah ini bukanlah belum adanya kode etik guru, melainkan sudah sejauh mana guru-guru di negeri ini mempelajari, memahami, dan mengaplikasikan kode etik guru tersebut, baik dalam mendidik anak bangsa ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga perlu dicarikan solusi yang terbaik guna bisa mengoptimalkan pekerjaan guru.


3.2 Saran
Secara keseluruhan 9 kode etik yang telah dirumuskan belum sepenuhnya dapat terlaksana dengan baik sebab kurangnya kesadaran dari sebagian besar guru dalam pelaksanaan dan penerapannya. Supaya kode etik dapat berfungsi dengan semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu harus jelas penjabarannya. Dengan adanya kode etik guru, sebaiknya seorang guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari kode etik guru.

DAFTAR PUSTAKA


Sardiman A.M.2007.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.PT Raja Grafindo Persada:Jakarta

Putra Herdiananta. 2011. Sanksi dan Pelanggaran Kode Etik Guru. http://herdiananantaputra.blogspot.com/2011/04/sanksi-dan-pelanggaran-kode-etik-guru.html.Diakses pada tanggal 25 Februari 2013

Muklis. 2011. Kendala-Kendala yang Dialami Guru. http://muklis-superband.blogspot.com/2011/04/kendala-kendala-yang-dialami-guru-dalam.html.Diakses pada tanggal 25 Februari 2013

Elvisa husna. 2008. Pentingnya menjalankan profesi secara etis. http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/27/etika-guru/.Diakses pada tanggal 25 Februari 2013
Anonim. 2009. Etika profesional dalam pendidikan. http://e3l.blogspot.com/2009/05/makalah-kode-etik-profesi.html.Diakses pada tanggal 25 Februari 2013
Syadia.2011.Kode Etik Guru di Indonesia. http://syadiashare.com/kode-etik-guru-di-indonesia. Diakses pada tanggal 26 Februari 2013
file.upi.edu/.../ETIKA.../pert_4_dan_5_kode_etik_guru. Diakses pada tanggal 26 Februari 2013

















0 comments:

Post a Comment

Follow by Email

Total Visitors

About Me

My Photo
Amlapura, Karangasem, Bali, Indonesia
Blog ini berisi kumpulan tugas saya. Bila ada suatu hal yang salah mohon diluruskan, karena saya masih dalam tahap belajar.

Blog Archive

DWIJA. Powered by Blogger.